Literasi

BERKURBAN UNTUK MENYEMBELIH BERHALA YANG BERSEMAYAM DALAM HATI GUNA MERAIH KESEMPURNAAN

techgnosiscom

 

Dalam ajaran Islam, secara historis  ritual penyembelihan hewan kurban yang dilakukan pada setiap hari tasyrik  bulan  Dzulhijjah  terilhami oleh drama Nabi Ibrahim yang akan menyembelih puteranya karena perintah Allah.

Nama Ibrahin dalam bahasa Ibrani, Ab-rab-ham yang artinya ayahnya orang banyak, Father of many, Nabi Ibrahim juga dikenal sebagai bapak dari banyak nabi, father of faith. Dari tiga agama samawi (Yahudi, Nasrani dan Islam), Nabi Ibrahim seringkali didudukkan sebagai ikon kepatuhan dan ketundukan terhadap Tuhan, saking patuhnya, karenanya ia diberi julukan khalilullah (kekasih Allah).

Agenda dan niat penyembelihan yang dilakukan oleh bapak terhadap anak tersebut, memang harus terjadi pada zamannya Nabi Ibrahim (3500SM), sebagai i’tibar (gambaran/motivasi) kepada umat manusia setelahnya, untuk terus merawat kepatuhan dan ketundukan kepada Tuhan. Karena apabila dilakukan pada hari ini, pasti akan berurusan dengan polisi dan komnas perlindungan anak. Sebuah rencana konyol yang didapatkan melalui mimpi untuk menyembelih anak kandung sendiri, dan pasti pelakunya akan divonis mengindap skizofrenia (halusinasi tingkat tinggi atau sakit jiwa).

Drama Nabi Ibrahim yang diperintahkan untuk menyembelih putranya Nabi Ismail tersebut adalah refleksi tingkat tinggi.  Dalam peristiwa tersebut, Nabi Ismail merupakan simbol miniatur berhala. Sebuah obyek kecintaan terhadap dunia yang pada umumnya tercurahkan kepada anak. Berhala itu bersemayam di dalam hati.  Bukan hanya anak, yang kerap kali menjadi berhala adalah jabatan, popularitas, kekayaan, trah/keturunan,  dan lainnya.

Selain Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail yang ikut berperan dalam drama tersebut  adalah Iblis. Ia sebagai simbol perlawanan pada kebenaran yang bekerja dengan gigih. Qur'an menyebut, iblis akan menggoda manusia dari segala arah dan penjuru. Nabi Ibrahim, Hajar dan Ismail didatangi Iblis untuk menggagalkan perintah Tuhan. Iblis sulit menggoda manusia dari arah atas ketika orang itu selalu berdoa. Dan iblis sulit menggoda dari bawah ketika seseorang suka sujud.

Sedangkan hewan kurban merupakan simbol watak destruktif atau kebinatangan yang mesti kita sembelih, setelah mati ditandai dengan daging kurban yangg kita bagi-bagikan pada fakir miskin. Sifat-sifat kebinatangan senantiasa hidup dalam diri kita yang mesti kita sembelih atau jinakkan. Sifat itu tercermin dalam perilaku destruktif sehari-hari seperti: adu domba, tamak, sombong, perilaku koruptif,  dan lainnya.

 Jadi menyembelih hewan kurban pada hari raya idul adha adalah syari’at yang musti dilalui apa adanya (benar-benar menyembelih hewan) sesuai dengan tuntunan fiqih, sedangkan menyembelih sifat-sifat kebinatangan adalah hakikat kurban yang sebenarnya yang harus kita lakukan setiap saat tanpa harus menunggu momentum hari raya idhul adha untuk meningkatkan kualitas kepatuhan dan ketundukan pada Tuhan, kemudian kita bangun solidaritas kemanusiaan. Nabi Ibrahim lulus dari ujian, berhasil menyembelih berhala di hatinya, lalu figur Ismail diganti domba. Ketaatan dan komitmen menegakkan kebenaran sebagai realisasi ketaatan kepada Tuhan memang selalu mensyaratkan pengurbanan yang amat berat.

Begitu juga dengan kita hari ini yang sedang berupaya untuk merealisasikan instansi Pengadilan yang berbasis pembangunan zona integritas untuk menuju wilayah bebas dari korupsi (WBK) dan wilayah birokrasi bersih dan melayani (WBBM), kita harus benar-benar mewaspadai apa saja yang potensial menjadi berhala yang dapat merusak komitmen kita bersama untuk meraih predikat WBM dan WBBK.

Tentu  saja, setiap kita sangat berpotensi menjadi berhala yang dapat merusak komitmen bersama, apabila tidak terus menerus memperbaharui niat untuk selalu bertekad melakukan pembangungan terhadap 6 area di dalam bekerja yaitu pertama, melakukan  menejemen perubahan dengan cara membangun pola pikir dan budaya kerja yang benar-benar bebas korupsi dan berkinerja baik; kedua, peñataan tatalaksana untuk membangun system kinerja yang efektif, efisien, dengan cara bekerja harus sesuai dengan SOP, menerapkan E-Office dan keterbukaan informasi publik; ketiga, penataan menejemen SDM guna meningkatkan profesionalisme kinerja, melalui pengembangan kinerja pegawai sesuai kompetensi dan menetapkan kinerja individu secara terukur serta penegakan disiplin maupun kode etik; keempat,  penguatan akuntabilitas kinerja untuk peningkatan kinerja dan akuntabilitas satker; kelima, penguatan pengawasan untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dari KKN melalui pengendalian gratifikasi, penerapan system pengawasan internal pemerintah (SPIP), menghindari konflik kepentingan, membuka pelayanan aduan masyarakat (whistleblowing system); keenam, peningkatan kualitas pelayanan publik, dengan melibatkan masukan masyarakat terhadap layanan yang sudah dijalankan dan bekerja secara optimal dalam melayani masyarakat.