Literasi

Perkawinan Harmoni dan Cinta melahirkan Dedikasi Kinerja Berkualitas Tinggi

Oleh Yusron Trisno Aji, S.Sy., M.H.

055066100 1543292750 HL

Sebagaimana dalam Perpres No. 80/2011 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi, bahwa salah satu tujuan reformasi birokrasi adalah pembangunan sumberdaya manusia aparatur yang berkualitas tinggi untuk mewujudkan good governance sebagai tulang punggung dalam perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk mencapai level tersebut,  seorang ASN tidaklah cukup hanya menjadi pribadi yang berprestasi. Karena sehebat apapun prestasi seorang ASN, ia akan kehilangan makna bila terlepas dari konteks kolektifitas atau kebersamaan.

Kuncinya adalah harmoni. Harmoni sendiri dalam ilmu musik dimaknai sebagai keselarasan, maksudnya keselarasan dalam paduan bunyi nyanyian atau permainan musik yang menggunakan dua nada atau lebih yang berbeda tinggi nadanya dan dibunyikan secara serentak. Namun demikian, yang saya maksud harmoni dalam konteks tulisan ini adalah keselarasan dalam bekerja antar sesama ASN, sehingga dapat menimbulkan irama kekompakan, kepercayaan, disertai kebahagiaan dalam menggapai prestasi bersama. Akan tetapi untuk mencapai target tersebut tidaklah mudah apabila antar satu ASN dengan yang lain tidak saling mengendalikan ego pribadi masing-masing dalam bekerja.

Selain harmoni, ada faktor cinta sebagai kunci untuk menciptakan kinerja yang unggul. Faktor ini sangat penting, ibarat bekerja itu adalah jasad, rasa cinta sebagai ruhnya. Pekerjaan akan nampak hidup tergantung dengan ada rasa cinta atau tidak yang menyertainya. Dengan rasa cinta setiap pekerjaan yang berat menjadi ringan karena dilalui dengan senang hati.

Setidaknya ada 2 (dua) faktor kenapa kita harus cinta terhadap pekerjaan kita. Pertama, kita dihidupi dari pekerjaan kita sehari-hari; kedua, pekerjaan adalah ladang ibadah kita di luar ibadah-ibadah mahdhah. Tanpa rasa cinta, kita akan bekerja seperti buruh tani, yang hanya bekerja sesuai dengan kebiasaan. Kondisi demikian berbeda bila kita bekerja dengan cinta. Dengan cinta akan muncul berbagai ide-ide perubahan untuk kemajuan ladang kita supaya menghasilkan hasil panen yang memuaskan. Bekerja dengan cinta akan bahagia spiritualnya dan hasil pekerjaannya juga memuaskan.

Seorang ASN pada era ini dituntut bekerja ekstra dengan kecerdasan tingkat tinggi. Kecerdasan tingkat tinggi ini maksudnya adalah seorang ASN harus mampu mendeteksi pola dan peluang dalam kepingan-kepingan rumit yang dipadu dengan kemampuan bersikap empati, kehangatan pribadi dengan orang lain, serta kemampuan dipercaya dan memercayai dan menempatkannya dalam paduan harmoni. Menurut Robert Putnam konsep ini dinamakan social capital.

Konsep aparatur yang unggul tersebut pada dasarnya selaras dengan program Sekretaris Mahkamah Agung dan Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama yang sedang mencanangkan program reformasi birokrasi terhadap 8 (delapan) area, diantaranya adalah manajemen perubahan, penataan dan penguatan organisasi, penataan peraturan perundang-undangan, penataan sumber daya manusia, penataan tata laksana, penguatan pengawasan, penguatan akuntabilitas kinerja, peningkatan kualitas pelayanan publik.

Sementara itu, program reformasi tersebut bukanlah pekerjaan yang dapat dilalui secara individu, melainkan pekerjaan besar yang menuntut sinergi, kerjasama, integrasi, cinta, dan komitmen.

Berkenaan dengan hal ini, Pengadilan Tinggi Agama Jayapura merupakan salah satu unit yang lolos sebagai unit yang diusulkan oleh Mahkamah Agung ke Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi untuk memperoleh predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM), dan untuk mencapai sukses tersebut tidak lah mudah, butuh kecerdasan dalam memadukan antara harmoni dan cinta untuk menghasilkan dedikasi kinerja berkualitas tinggi. Semangaaat, PTA Jayapura bisaa..!!!!